Sunday, April 13, 2014

Sumber Ajaran Pendidikan Aqidah Akhlak



Sumber ajaran pendidikan aqidah akhlak dapat dibagi menjadi dua yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist.
a.       Al-Qur’an
Mendefinisikan Alquran dengan “Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan yang mutawir dan membacanya dipandangi ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya)walaupun surat terpendek.[1]
           Al Quran dijadikan sebagai sumber pendidikan islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolute yang diturunkan dari tuhan.

Adapun sumber Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pendidikan aqidah akhlak, antara lain sebagai berikut:
1)      Al-Qur’an surat Al’Ashr ayat 1-3
Artinya: (1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.[2]
2)      Al-Qur’an surat Luqman ayat 17
Artinya: Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).[3]
3)      Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 104
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur
 Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.[4]

Dari beberapa ayat di atas, maka dapat penulis simpulkan antara lain sebagai berikut:
1)      Al-Qur’an Surat Al’Ashr ayat 1-3
Pada surat Al’Ashr ayat 1-3 bahwa manusia harus bisa memanfaatkan waktu hidupnya agar masa itu jangan sampai disia-siakan, perlu digunakan dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan beramal sholeh. Dan apabila manusia tersebut tidak dapat memanfaatkan masa hidupnya, maka mereka akan rugi dan tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Sebaliknya bagi orang-orang yang beriman, mereka tidak akan merasakan kerugian sepanjang masa karena mereka bekerja dengan baik dan berfaedah. Maka hubungan antar sesama muslim dapat mewujudkan kehidupan yang bahagia, dengan mengajak orang lain bersabar dalam berilmu dan beramal.
2)      Al-Qur’an Surat Luqman ayat 17
Pada surat Luqman ayat 17 bahwa dari kisah Luqman, beliau menyuruh anaknya untuk melaksanakan shalat karena dengan shalat kita akan mendapatkan kekuatan pribadi, lahir batin, moral dan mental, namun yang lebih penting lagi hati dan seluruh anggota badan kita akan selalu ingat kepada Allah SWT. Kemudian hendaklah dia berani menyampaikan kebenaran kepada sesama manusia, sesudah itu hendaklah berani menegor orang yang berbuat mungkar. Tetapi jika ditegor mereka marah, maka kita harus sabar dan tabah.
Jadi inti dari surat Luqman ayat 17 yaitu shalat sebagai kekuatan pribadi, amar ma’ruf nahi mungkar dalam hubungan dengan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Karena semua kehidupan yang kita rasakan apabila tidak sabar, kita akan putus asa di tengah jalan.
3)      Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 104
Dalam surat Ali-Imran ayat 104 terdapat dua kata penting yaitu menyuruh berbuat ma’ruf, mencegah perbuatan mungkar. Menyampaikan ajakan kepada yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar itulah yang dinamakan da’wah, dengan adanya umat yang berda’wah agama menjadi hidup dan berkembang. Sehingga hanya orang-orang yang tetap menjalankan da’wah sajalah yang akan memperoleh kemenangan dan beruntung.
b.      Al-Hadist
Sedangkan Al-Hadist merupakan sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat atau keadaan-keadaan Nabi Muhammad yang lain. Dan bisa disebut penjelasan atas Al-Qur’an.
Adapun sumber Al-Hadist yang menjelaskan tentang pendidikan aqidah akhlak, antara lain sebagai berikut:
اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُاِلى اَجْسَا دِ كُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَ ِركُمْ وَ لكِنْ يَنْظُرُ
اِلى قُلُوْ ِبكُمْ (وَاَ شَا رَِباَ صَا ِبعِهِ اِلى صَدْ ِرهِ) (روه مسلم)
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu maupun rupamu, tetapi melihat kepada hatimu. (Dan Nabi menunjuk hal itu dengan jari-jari tangannya ke dadanya). (HR. Muslim)[5]
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ مَعَا ِلىاْلاَخْلاَ ِق, وَيَكْرَهُ سَفْسَا فَهَا (رواه الحاكم)
Artinya:  Sesungguhnya Allah menyukai akhlak-akhlak yang mulia lagi luhur, dan Dia tidak menyukai akhlak-akhlak yang rendah. (HR. Hakim).[6]
خَيْرُالنَّاِس اَحْسَنُهُمْ خُلُقاً (رواه الطبرانىعن ابن عمر)
Artinya: Manusia yang paling baik ialah yang lebih baik budi pekertinya. (HR. Thabrani dari Ibnu Umar).[7]
Dari beberapa hadist di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa manusia dalam beribadah atau melakukan satu kebaikan lebih dititik beratkan pada keikhlasan yang ada dalam hati, sebab Allah hanya melihat dimana sumber perbuatan manusia tersebut. Maka dari itu kita wajib bertakwa kepada Allah SWT dimana saja berada dengan jalan berbuat baik kepada sesama manusia sehingga terhapuslah dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Yang akhirnya terwujudlah akhlak yang sempurna, karena Allah menyukai seseorang yang berakhlak mulia dan luhur, sebaliknya Allah juga tidak menyukai seseorang yang berakhlak buruk. Untuk itu, sangat berat apabila seseorang melakukan perbuatan baik tanpa diimbangi dengan ketulusan yang apa adanya.


[1] Muhammad Salim Muhsin,Tarikh Al-Quran al Karim, (Iskandariyah;Muasssasah Syabab al-Jamiyah,tt) Hlm.5
[2] DEPEG RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya  (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an) Hlm. 1099
[3] Ibid., Hlm. 655
[4] Ibid., Hlm. 93
[5] Hussein Bahreisj, Himpunan hadits Shahih Muslim  (Surabaya: Al Ikhlas) Hlm. 33
[6] Yusuf Qardhawi, Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban  (Jakarta: Gema Insani Press) Hlm. 469

[7] Fachruddin, Irfan Fachruddin, Pilihan Sabda Rasul (Hadis-Hadis Pilihan)  (Jakarta: Bumi Aksara) Hlm. 231

No comments:

Post a Comment